Monday, December 4, 2017

Natal Pertama di Rumah Sendiri

Christmas is coming…. Di tulisan kali ini saya mau share tentang euphoria Natal di tahun 2017 ini. Segala kehebohan dan segala ingin ini ingin itu untuk menyambut Natal nanti. Natal kali ini terasa lebih spesial untuk saya. Sebenarnya momen Natal setiap tahunnya pasti spesial, tapi Natal tahun ini lebih spesial lagi. Kenapa? Karena saya dan suami sudah tinggal di rumah sendiri. Hore….

Tahun lalu kami merayakan Natal di rumah orang tua suami dan tahun-tahun sebelumnya saat belum menikah, kami merayakan Natal di rumah orang tua masing-masing. Yang membuat spesial bukan karena kami bisa merayakan Natal berdua saja, karena yang namanya momen Natal memang paling pas dirayakan bersama keluarga besar. Yang berbeda dari Natal kali ini adalah karena kami bisa menghias rumah kami sendiri.

Dulu saat masih tinggal dengan orang tua, pohon Natal dan pernak-pernik Natal lainnya hampir semua telah tersedia. Kalau mau menambah pernak-pernik tertentu lebih karena pernak-pernik yang lama sudah usang atau hilang entah disimpan di mana. Nah... saat ini, kami tidak punya ornamen Natal sama sekali. Saya pikir, inilah saatnya menggunakan imajinasi dan kreativitas kami untuk menghias rumah.

Karena kami sudah tinggal di rumah sendiri dan ini adalah Natal pertama di rumah kami, maka bermunculan ide-ide ingin ini ingin itu banyak sekali… :) Yang pasti, harus ada pohon Natal. Ukuran pohon Natalnya kecil saja, karena rumah kami juga tidak besar. Jangan sampai rumah kami tambah sempit karena ada pohon Natal yang ukurannya kurang pas di rumah kami. Saya ingin ada Christmas Wreath juga yang digantungkan di pintu depan dan pintu menuju dapur. Wall Shelf juga ingin dihias dengan Garland beserta pernak perniknya. Belum lagi ingin ada pohon Natal yang lebih kecil lagi untuk ditaruh di meja TV. Hmm…banyak maunya kan :)

Ohiya, mungkin masih ada yang belum tahu apa itu Christmas Wreath dan Christmas Garland. Untuk gambarnya nanti bisa dilihat di bagian bawah. Sedikit penjelasan, Christmas Wreath adalah benda yang digantung di pintu. Biasanya bentuknya lingkaran dan terbuat dari untaian daun dengan hiasan pernak-pernik natal di sekeliling lingkaran tersebut. Kalau Christmas Garland, bentuknya berupa untaian daun yang membentang dan berhiaskan pernak-pernik Natal di sepanjang untaian tersebut. Biasanya Christmas Garland dipasang membentang di pegangan tangga rumah, atau ada juga yang dibentangkan di sekeliling meja atau pinggiran lemari dan furniture lainnya.

Setelah heboh ini itu, untuk mewujudkannya muncul dua opsi. Apakah akan membuat sendiri pernak-pernik Natal tersebut atau beli jadi saja. Buat sendiri sih lebih seru, apalagi sekarang banyak tutorial membuat pernak-pernik Natal yang bisa dilihat di Pinterest. Tapi apakah saya punya cukup waktu untuk membuat sendiri segala pernak-pernik Natal tersebut? Kebetulan saya dan suami sama-sama bekerja. Waktu libur hanya di Sabtu dan Minggu. Di waktu libur tersebut pun kami jarang full ada di rumah. Kalau tidak mengunjungi orang tua, biasanya ada acara kondangan atau kumpul dengan teman. Mengerjakan di hari kerja setelah pulang kantor? Rasanya lebih mustahil lagi. Tumpukan pakaian untuk dilipat saja hanya jadi wacana dan ujung-ujungnya baru bisa dikerjakan saat libur. Tetapi saya tetap ingin coba untuk membuat sendiri beberapa pernak-pernik. Selain asumsi kalau beli yang sudah jadi pasti mahal, sepertinya seru juga kalau bisa buat sendiri. Oke… saya putuskan akan coba buat Christmas Wreath dan Christmas Garland. Sedangkan untuk pohon Natal, saya akan beli saja. Memang belum berniat untuk membuat pohon Natal sendiri sih:)

Pertama-tama, saya tentukan dahulu tema warna yang akan saya pakai untuk dekorasi Natal di rumah. Pilihan warna untuk dekorasi Natal cukup banyak. Karena Natal merupakan momen bahagia yang memperingati hari kelahiran Yesus, warna-warna cerah apa pun sebenarnya pas-pas saja untuk dipakai sebagai tema warna Natal. Berbekal dari pencarian di Pinterest, saya lihat terdapat beberapa tema yang banyak dipakai. Yang pasti adalah tema warna merah-hijau. Sepertinya ini sudah jadi warna yang umum dipakai saat Natal. Selain merah-hijau, saya juga lihat kombinasi warna perak-emas yang sepertinya cantik juga. Akhirnya saya putuskan untuk memilih tema warna perak-emas. Tentunya tanpa melupakan warna khas Natal yaitu merah-hijau. Warna hijau sudah pasti saya gunakan sebagai warna dasar, baik di pohon Natal, wreath dan garland-nya. Kemudian akan saya berikan sentuhan sedikit warna merah juga.

Peralatan dan bahan-bahan dekorasi saya beli di Carrefour dan Gramedia. Cukup banyak juga pilihan yang disediakan di dua tempat tersebut. Berikut barang-barang yang saya dapatkan:








1. Tinsel Hijau Putih

Rencananya tinsel ini akan saya pakai untuk membuat Christmas wreath karena warna dan motifnya sudah mirip daun hijau yang terkena sedikit salju di ujungnya.

2. Tinsel Hijau dengan Corak Merah
Tinsel ini rencananya akan saya jadikan Christmas Garland yang akan menghiasi area wall shelf di ruang tamu.

3. Baubles


Sesuai tema warna yang saya pilih yaitu perak-emas, maka saya beli bola-bola warna emas dengan ukuran sedang dan bola-bola warna perak dengan ukuran kecil. Saya memilih ukuran sedang dan kecil karena pohon Natal yang saya beli juga berukuran kecil.

4. Pita Perak dan Emas


Pita-pita ini akan saya gunakan untuk menghias pohon Natal, Garland, dan Wreath. Untuk menghias pohon Natal, saya sengaja tidak menggunakan tinsel dengan harapan agar pohon Natal tidak terlalu heboh, tetap simple dan cantik.


5. Hiasan Pita Jadi untuk Wreath


Hiasan ini saya beli dalam bentuk sudah jadi. Saya pilih model ini karena ini yang paling murah :)


6. Lonceng Emas

Lonceng emas ini akan saya taruh di pucuk pohon Natal mini.


7. Bintang Perak

Bintang perak ini akan saya taruh di pucuk pohon Natal nanti.

8. Daun-daunan
Daun-daunan ini akan saya apakai untuk membuat garland, wreath atau dekorasi lain yang belum terpikirkan :)

9. Ornamen Buah Mistletoe Merah
Ornamen buah ini rencananya akan saya pakai untuk memperindah wreath atau garland.

Setelah merangkai bahan-bahan yang ada, beginilah jadinya hiasan Natal yang saya buat...




1. Christmas Wreath yang digantung di pintu dapur
2. Christmas Wreath yang digantung di pintu luar
3. Hiasan dari sisa bahan yang kemudian saya gantung di pintu kamar utama


Penampakan Ruang Tamu

Ini penampakan ruang tamu setelah dihias. Tema perak emasnya tidak terlalu terlihat ya. Kurang ramai sepertinya :). Jujur saja, rasanya masih ingin tambah ini tambah itu supaya lebih ramai suasanyanya. Tapi kalau dihias lebih ramai lagi takut jadinya berkesan sempit.
Ohiya, yang namanya Christmas Garland adalah rangkaian menjuntai yang ada di wall shelf, di bawah pohon Natal mini.


Pojok Rumah 

Bagian pojok rumah juga tidak luput untuk dihias, meskipun tidak terlalu banyak hiasan karena bahan untuk menghias juga sudah habis :).

Untuk yang penasaran berapa budget yang saya keluarkan untuk dekorasi Natal kali ini, berikut saya berikan bocoran budget-nya:


Budget Dekorasi Natal

Mahal tidaknya budget yang saya keluarkan menurut saya relatif. Tapi kepuasan dari proses merangkai bahan dan menata peletakkan ornamen Natal sendiri, itu yang tidak ternilai.
Sedikit tips untuk yang berniat menghias rumah dengan suasana Natal:


  1. Tentukan tema warna. Hal ini penting, supaya kita tidak asal beli bahan untuk menghias tapi menyesal kemudian karena paduan warnanya kurang pas.
  2. Buat daftar ornamen apa saja yang akan dibuat beserta bahan yang diperlukan.
  3. Sempatkan untuk melakukan perbandingan harga. Hal ini yang membuat saya membeli bahan untuk menghias dari 2 tempat, yaitu Gramedia dan Carrefour.

Salam,
Nita

Thursday, November 16, 2017

Makan Siang di Mie Kocok Kebun Jukut Bandung

Dari rangkaian itinerary yang saya buat selama berlibur di Bandung, ada satu bagian yang masih kosong, yaitu tempat makan siang setelah sampai di Bandung. Karena saya dan suami menggunakan moda transportasi kereta api dari Jakarta ke Bandung, maka pilihan makan siang kami adalah di sekitar Stasiun Kereta Api Bandung atau sekalian makan siang di hotel. Kebetulan kami sampai di kota Bandung pukul 12.10, pas banget dengan waktu makan siang.

Sampai beberapa hari sebelum keberangkatan, kami belum menemukan tempat yang pas untuk makan siang nanti. Hampir menyerah, kami pun sempat berencana untuk makan siang di Hoka Hoka Bento yang ada di dalam stasiun. Tapi masa sudah jauh-jauh ke Bandung makannya tetap di HokBen? Di Jakarta juga ada dan bahkan banyak gerainya di mana-mana. Beruntung mendekati hari liburan, suami dapat ide saat meeting dengan teman kantornya. Di meeting tersebut, salah satu rekannya menyebut Mie Kocok Kebun Jukut. Saat itu kami belum tahu lokasi Mie Kocok tersebut ada di mana. Dan ternyata, setelah kami cek google maps, lokasinya dekat dengan stasiun. Pas banget dengan yang kami harapkan.

Lokasi kedai mie bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 500 meter atau selama kurang lebih 20 menit jalan santai dari Stasiun Bandung. Sebenarnya jarak tersebut tidak terlalu jauh, dibandingkan jarak dari kantor ke Stasiun Karet atau Stasiun Sudirman yang pernah saya tempuh, yaitu lebih dari 1 km. Yang membuat jarak menuju mie kocok jadi terasa berat adalah barang bawaan kami dan kondisi perut kami yang pasti sudah lapar sekali setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam 20 menit dari Jakarta ke Bandung. Seperti biasa, saya browsing-browsing dulu tentang Mie Kocok Kebun Jukut ini. Dari hasil penelusuran, gambar yang di-post orang lain cukup menarik dan terlihat enak. Oke, patut dicoba nih...

Keluar dari area Stasiun Bandung, kami langsung menuju lokasi Mie Kocok dengan berbekal arahan dari Google Maps. Saat menelusuri jalan, suami teringat bahwa ternyata ia pernah lewat jalan tersebut sebelumnya. Sip… aman, kami ga akan tersesat seharusnya. Ingatan suami tentang rute jalan bisa dibilang cukup baik dibandingkan saya yang baca peta saja sulit.

Akhirnya kami pun tiba di lokasi Mie Kocok Kebun Jukut yang katanya paling enak sekota Bandung. Saat sampai di lokasi, kami agak heran karena tempatnya tidak sesuai bayangan kami. Kami kira tempat Mie Kocok Kebun Jukut ini berupa kedai mie dengan bangunan tetap, paling tidak warung kecil. Ternyata Mie Kocok ini dijual dalam gerobak abang-abang yang berada di depan ruko yang sepertinya sudah tidak terpakai. Kami sempat ragu apa benar ini mie kocok yang katanya paling enak di Bandung? Kok tempatnya seperti ini? Tempatnya ramai sekali dengan pengunjung sih dan tulisan di gerobaknya memang benar Mie Kocok Kebun Jukut. Jangan-jangan 100 meter ke depan ada banyak gerobak serupa bertuliskan  Mie Kocok Kebun Jukut? Saking ragunya, kami googling lagi dan menemukan gambar gerobak persis seperti yang di depan kami ini. Oke, sepertinya memang ini Mie Kocok legendaris yang kami cari.

Kami mendekat ke gerobak mie dan mencari tempat duduk. Pengunjungnya ramai sekali dan kursi terlihat penuh. Untungnya ada pengunjung yang sudah selesai makan dan kami bisa duduk bergantian. Selain gerobak Mie Kocok, di sebelahnya ada juga gerobak minuman dan gerobak buah. Setelah pesan Mie Kocok 2 porsi, kami pun memesan es jeruk 2 gelas. Sepertinya mie kocok dan es jeruk merupakan pasangan yang cocok untuk dinikmati di siang yang cukup terik. Sambil menunggu pesanan datang, seperti biasa saya observasi. Mata ke kiri dan ke kanan memperhatikan pengunjung yang datang. Rata-rata pengunjungnya turun dari mobil pribadi loh. Dan rata-rata mereka beserta rombongan keluarganya juga. Ada mobil plat B dan plat D juga. Makin penasaran sama rasa mie kocok ini.

Kedai Mie Kocok Kebun Jukut
Penampakan Kedai Mie Kocok Dari Posisi Saya Duduk

Akhirnya pesanan yang kami tunggu-tunggu datang juga. Tiup-tiup sedikit kuah mie yang masih panas, lalu makan… Dan rasanya memang enak... Sebenarnya saya bukan ahli pencicip kuliner, tapi masih bisa membedakan mana yang enak dan mana yang biasa saja. Kebetulan ini bukan pertama kalinya saya mencoba mie kocok. Sebelumnya saya juga pernah makan mie kocok di dekat lapangan Gasibu yang rasanya kurang enak, bahkan hampir membuat saya ogah untuk mencoba mie kocok lagi. Beruntung rasa Mie Kocok Kebun Jukut ini sungguh tidak mengecewakan. Makan siang kali ini, nikmat…

Mie Kocok Kebun Jukut bandung
Ini Dia Tampilan Mie Kocok Lengkap Dengan Kerupuk Persegi yang Khas

Entah apa yang berbeda dari kerupuk persegi pendamping mie kocok ini. Saya dan suami tanpa sadar masing-masing menghabiskan 3 kerupuk. Padahal biasanya kami jarang sekali makan kerupuk sebagai pendamping saat makan di luar. Mungkin karena bentuknya yang menarik? Biasanya kerupuk yang kami makan bentuknya bulat. Mungkin karena warna pink-nya yang menarik? Padahal biasanya kami suka parno dengan warna makanan yang terlalu mencolok. Atau mungkin karena suasananya yang mendukung untuk lahap menyantap mie bersama kerupuknya? Memang pengunjung yang lain juga terlihat bersemangat sekali menyantap mie bersapa kerupuk pink persegi ini.

Mie Kocok Kebun Jukut Bandung
Kerupuk dan Es Jeruk yang Kami Pesan

Tidak hanya kerupuknya yang berwarna pink, tapi plastik pembungkusnya juga berwarna biru terang. Sungguh kali ini saya mengesampingkan kekhawatiran saya akan warna makanan yang mencolok dan warna plastik pembungkusnya  yang juga mencolok. Semata-mata karena ingin merasakan menu satu ini secara lengkap beserta kerupuk pendampingnya. Tapi kok ya keterusan makan kerupuk pink-nya sampai 3 kerupuk.

Sedikit tips untuk yang mau berkunjung ke tempat makan ini:
  •  Usahakan untuk membawa barang seperlunya saja. Kemarin saya berkunjung bersama suami dengan masing-masing membawa 2 gembolan tas. Karena tempatnya sempit dan pengunjungnya ramai serta jumlah kursi bakso yang tersedia tidak banyak, terpaksa kami menaruh tas kami di bawah. Untungnya saat itu pijakannya kering, paling tidak tas kami tidak akan basah, hanya kena debu sedikit. Sempat khawatir juga tas yang kami bawa akan menyenggol pengunjung lain, atau bahkan gelas abang tukang minuman di sebelah.
  • Jangan lupa membawa tissue. Entah karena tissue sedang habis atau memang tidak disediakan, saat kami makan kemarin tidak tersedia tissue. Untungnya saya siap sedia tissue kering maupun basah di tas.


Mie Kocok Kebun Jukut ini memang patut dicoba. Bisa makan di tempat atau dibungkus juga dengan meminta kuahnya dipisah agar lebih nikmat saat disajikan di rumah. Dan ternyata Mie Kocok Kebun Jukut ini juga punya cabang loh di The Kiosk Braga City Walk. Saya sempat mampir untuk mencoba apakah rasanya sama atau berbeda dengan yang di Kebun Jukut. Dari segi rasa sebenarnya sama, hanya saja mungkin di The Kiosk abang mienya terlalu banyak memasukkan garam sehingga agak asin. Kalau dari suasana makan pastinya jauh  lebih nyaman di The Kiosk. Dari segi jumlah pengunjung, sepertinya tidak terlalu ramai pengunjung yang memesan Mie Kocok Kebun Jukut di The Kiosk. Mungkin karena saya datang saat jam makan siang dimana orang lebih memilih makanan dengan porsi berat. Dan memang di The Kiosk juga dijual pilihan makanan lain yang porsinya lebih berat.

Kalau berkunjung ke Bandung lagi, Mie Kocok ini mungkin banget untuk jadi list tempat makan yang akan saya kunjungi kembali.

Salam,
Nita

Wednesday, November 15, 2017

Yang Hijau Segar di The Green Forest Resort and Wedding

Masih seputar berlibur di Bandung dalam rangka merayakan 1 tahun pernikahan, kali ini saya akan membahas hotel tempat saya menginap, The Green Forest Resort & Wedding.
Setelah menentukan lokasi liburan, yaitu Bandung, selanjutnya saya melakukan pencarian hotel. Kriteria hotel yang saya cari sebagai berikut:


  1. Kriteria pertama adalah harga. Dari awal sudah berniat mau mencari penginapan yang harganya maksimal 1,5 juta rupiah.
  2. Untuk lokasi, saya ingin yang dingin dan bernuansa alam. Dan satu lagi, ingin menginap di hotel yang belum pernah saya dan suami datangi. Harapannya supaya dapat suasana baru dari lokasi yang memang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.
  3. Hotel yang banyak diulas orang lain dan banyak fotonya sebagai gambaran suasana menginap nanti.
Berdasarkan kriteria pencarian hotel dan berbekal informasi dari suami dan teman-teman tentang The Green Forest Resort & Wedding, saya pun mulai browsing-browsing tentang hotel ini.
Berbagai ulasan dari blog, traveloka, agoda, tripadvisor dan penyedia jasa booking hotel lainnya saya telusuri. Foto-foto di googlemaps juga tidak luput dari pantauan saya.

Setelah benar-benar yakin akan menginap di hotel tersebut, saya lanjut memesan hotel sesuai tanggal yang diinginkan. Untuk tipe kamarnya, dari hasil penelusuran, sepertinya paling cocok tipe Cottage untuk suasana menginap romantis.
Beruntungnya, masih tersedia satu kamar tipe Cottage di tanggal yang saya inginkan dan beruntungnya lagi harganya lumayan miring. Masih masuk budget pastinya. Langsung book!

Dari lokasi sendiri, hotel ini cukup mudah dicari. Tinggal mengikuti arahan google maps juga bisa. Gerbang masuknya persis di pinggir jalan dengan posisi setelah Kampung Gajah dan sebelum Kampung Daun.
Setibanya di lobby hotel, kata-kata yang terucap dalam hati adalah “Wow…hijau banget! Pantas namanya Green Forest”. Saat check-in di lobby, dapat langsung dilihat lapangan hijau luas serta kapel segitiga cantik  dengan posisi agak lebih di atas dari lapangan hijau tadi. Ohiya, karena kami tidak bawa kendaraan pribadi, maka di perjalanan kali ini tidak perlu leyeh-leyeh dulu setelah check-in karena badan pegal  setelah menyetir. Kami tinggal duduk manis di kereta dan di transportasi online. Setelah check-in tenaga masih full untuk langsung explore ke sekeliling hotel.


Halaman Depan The Green Forest Resot & Wedding Bandung
View dari Lobby The Green Forest Resort & Wedding

Kebetulan saat saya menginap sedang ada acara employee gathering dari salah satu bank yang mengadakan acara di lapangan dekat lobby. Melihat kekhawatiran saya dan suami karena suasana ramai yang takutnya menggangu kenyamanan kami, petugas hotel menerangkan kalau posisi Cottage agak jauh dari lapangan, sehingga tidak perlu khawatir acara yang berlangsung akan mengganggu kenyamanan kami. Sebenarnya saat itu bukan kenyamanan saja yang saya khawatirkan, tapi saya ingin melihat kondisi lapangan tersebut yang kosong seperti apa. Pasti lebih cantik lagi.

Selesai check-in, kami diantar oleh petugas hotel menuju kamar kami. Medan untuk mencapai Cottage lumayan naik-turun, tapi tidak terjal. Saat melewati medan yang naik dan turun, kami melewati tangga dari batu yang memang sudah disediakan untuk memudahkan tamu berpijak.


Kamar tipe Cottage The Green Forest Resort & Wedding Bandung
Disambut Angsa-angsa Cantik di Kamar

Saat memasuki kamar, kami sudah disambut oleh angsa-angsa cantik ini. Agak norak saat pertama kali lihat angsa-angsa ini, karena tahun lalu kami honeymoon di Jepang dengan kamar hotel standard. Prioritas kamar saat honeymoon tahun lalu adalah yang penting terjangkau dan nyaman. Jadi tidak ada yang namanya hotel honeymoon kami dihias angsa-angsa seperti ini.

Setelah puas ber-norak-ria dengan memfoto si angsa-angsa cantik ini, kami pun mulai explore ke sekeliling hotel. Kebetulan suasananya agak mendung, sehingga biarpun kami explore hotel di jam 2 siang, panas matahari tidak terlalu terik. Kebetulan juga malam harinya akan dilangsungkan pesta pernikahan di kapel. Kebayang kan, pasti kapelnya akan dihias dengan cantiknya.

Kapel The Green Forest Resort & Wedding
Kapel yang Dihias untuk Acara Pernikahan di Malam Hari


Infinity Pool The Green Forest Resort & Wedding Bandung
Kolam Renang yang Posisinya Bersebelahan dengan Kapel


Infinity Pool The Green Forest Resort & Wedding Bandung
Pelaminan di Sebelah Kapel
Posisi Kolam Renang Ada di Belakang Pelaminan

The Green Forest Resort & Wedding Bandung Mini Waterfall
Air Terjun Mini yang Posisinya Menghadap Restoran


Kampoeng Awi Restaurant The Green Forest Resort & Wedding Bandung
Restoran Kampoeng Awi


Restoran Kampoeng Awi adalah tempat sarapan kami yang dibuka juga untuk umum. Lagi-lagi lapangan hijau membentang.


Jembatan Goyang The Green Forest Resort & Wedding Bandung
Jembatan Goyang yang Posisinya Persis di Bawah Kamar Kami


Taman Kardus The Green Forest Resort & Wedding Bandung
Taman Kardus untuk Tempat Ngopi-ngopi Cantik

Properti di Taman Kardus ini benar-benar terbuat dari kardus loh. Mulai dari meja, kursi, hingga lampu gantungnya. Tentunya lampu gantung tersebut hanya pajangan dan tidak bisa dinyalakan :) 


Kesan selama kami menginap di sini:


  • Banyak tempat luas dan hijau. Cocok sekali jika membawa keluarga besar ke hotel ini. Apalagi anak-anak kecil yang sedang aktif-aktifnya bermain pasti suka karena bisa berlarian sepuasnya di lapangan.

  • Banyak sekali spot foto di hotel ini. Sekali lagi, banyak banget spot fotonya... Yang hobby selfie pasti suka menginap di sini.

  • Di samping kapel yang berhias dengan cantiknya karena ada acara pernikahan, ternyata acara pernikahan tersebut cukup mengganggu kenyamanan tidur saya. Bukan karena kebisingan acaranya, tetapi karena letak kamar saya berada di bawah kamar pengantin yang sedang mempersiapkan pernikahan. Ohiya, meskipun tipe kamar yang kami tempati adalah Cottage, tapi Cottage itu terdiri dua lantai, ada kamar yang di atas dan ada yang di bawah. Dari siang hingga menjelang tidur, suara berisik langkah kaki yang terkesan selalu terburu-buru terdengar hingga ke kamar saya dan cukup mengganggu. Awalnya saya mau protes ke pihak hotel, karena saya tidak kunjung bisa tidur mendengar suara langkah kaki tamu di atas, tapi kok ya suami saya di sebelah bisa tidur dengan pulasnya. Mungkin pendengaran saya saja yang sedang sensitif jadi berisik sedikit saja sudah mengganggu.
Jika ada kesempatan, apakah saya akan menginap lagi di hotel ini? Tentu saja...mau dong. Meskipun tidur saya cukup terganggu karena cerita di atas, tidak menyurutkan semangat saya untuk merekomendasikan hotel ini ke keluarga dan orang sekitar. Rasanya suasana hijau, nyaman dan menyegarkan terlalu sayang untuk tidak dibagikan :)

Salam,
Nita

Tuesday, November 14, 2017

Ke Bandung Tanpa Kendaraan Pribadi

Halo.. ini adalah postingan pertama saya :)
Setelah lama berandai-andai, akhirnya saya memberanikan diri untuk buat blog (payah kan, mau buat blog aja harus pakai berandai-andai dan berani dulu?).

Di Bulan November, dalam rangka merayakan 1 tahun usia pernikahan, saya dan suami memutuskan untuk berlibur ke kota Bandung (Yeay!!).

Halaman depan hotel The Green Forest Resort & Wedding dilihat dari Lobby
The Green Forest Resort & Wedding

Kenapa Bandung?
  1. Lokasinya yang masih terjangkau dari Jakarta. Tidak perlu pesawat untuk mencapai lokasi Bandung. Tidak perlu pesawat artinya biaya transportasi yang lebih murah. Hore… hemat. Selain itu, tidak perlu cuti tambahan juga karena saya rasa cukup lah menginap 2 hari 1 malam saja. Maklum, saya ini fakir cuti karena jatah cuti tahunan sudah minus. Tidak hanya hemat biaya, tapi juga hemat cuti, makin mantap lah.
  2. Bisa dijangkau dengan kereta. Naik kereta artinya bebas macet dan bebas dari pegal-pegal karena nyetir di jalan macet. Agak trauma juga karena pernah kena macet dari Jakarta menuju Bandung dan keca macet juga saat jalan-jalan di dalam kota Bandungnya sendiri.
  3. Masih banyak resort/hotel, restaurant dan tempat wisata lainnya yang belum kami kunjungi yang membuat penasaran karena banyaknya testimoni menggoda dari orang sekitar. Sepertinya sudah sekian kali ke Bandung, tapi kok ya belum semua tempat kami pijak. Memang wisata Bandung ga ada habisnya ya.

Yang membuat liburan kali ini berbeda selain momen merayakan ulang tahun pernikahan adalah moda transportasi yang saya dan suami pakai. Biasanya kami bawa kendaraan pribadi untuk berlibur ke Bandung. Kali ini, kami mau coba berlibur ke Bandung tanpa bawa mobil pribadi.
Awalnya agak ragu untuk tidak membawa mobil pribadi karena takut nanti di Bandungnya sulit untuk cari kendaraan guna berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya dan juga takut ribet membawa barang bawaan yang tidak bisa ditaruh sesuka hati di dalam kendaraan pribadi.
Tapi rasa ragu tersebut luntur setelah dengar cerita teman yang beberapa hari sebelumnya ke Bandung menempuh lebih dari 6 jam perjalanan. Jangan sampai kemacetan mengacaukan suasana liburan kami nantinya.

Dengan membulatkan tekad, saya putuskan dari Jakarta ke Bandung naik kereta dan transportasi di Bandung menggunakan transportasi online. Bersyukur sekali sekarang sudah ada moda transportasi ini yang bisa memudahkan mobilisasi saya selama di Bandung.
Untuk pemesanan tiket kereta saya lakukan jauh-jauh hari. Tidak tanggung-tanggung, saya lakukan prmesanan 3 bulan sebelumnya. Memang saya orangnya parnoan, saya takut kehabisan tiket kereta karena biasanya kereta penuh saat Sabtu dan Minggu oleh pekerja yang bekerja di Jakarta tapi berdomisili di Bandung.

Oke, tiket pun saya pesan. Saya pesan tiket Argo Parahyangan dengan rute Gambir-Bandung dan Bandung-Jatinegara untuk kepulangannya.
Hari liburan pun tiba dan kami berangkat dari stasiun Gambir ke Stasiun Bandung. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam 20 menit kami sampai di Stasiun Bandung. Tujuan pertama setelah sampai adalah toilet. Ya..saya menahan buang air kecil sepanjang perjalanan karena malas memakai toilet kereta. Bayang-bayang toilet yang sempit dan bergoyang-goyang selama perjalanan sepertinya sudah cukup membuat saya sanggup menahan buang air kecil. Jujur saya tidak tahu wujud toilet kereta saat ini seperti apa dengan segala kemajuan dari PT KAI. Tetapi saya sudah bertekad, kalau ga kebelet banget, ga akan buang air di toilet kereta.

Setelah selesai dengan segala urusan pertoiletan, kami pun menuju tempat makan siang baru ke hotel.
Nah.. setelah makan siang, kami pesan transportasi online untuk menuju hotel kami di daerah Lembang. Inilah momen pembuktian dari segala kekhawatiran kami, yaitu mobilisasi selama di Bandung.
Dan ternyata.. transportasi online berupa mobil kami dapatkan dengan mudah. Syukurlah, ternyata tidak sesulit yang kami kira. Namun kekhawatiran kami belumlah sirna karena saat sore menjelang malam, kami berencana untuk makan malam di hotel lain dan sempat was-was juga apakah bisa dengan mudahnya mendapatkan transportasi online lagi di daerah kami menginap di Lembang.

Sore pun tiba dan tibalah saatnya memesan transportasi online dari hotel kami di Lembang ke arah Jl. Setia Budi. Ternyata… memesan transportasi online kali ini tidak semudah saat kami memesan dari pusat kota menuju hotel kami di Lembang :(
Kami lihat memang driver di sekitar hotel kami menginap sangat sedikit dan jaraknya cukup jauh, rata-rata lebih dari 10 menit. Sambil berharap cemas, kami pun mulai memikirkan rencana lain kalau-kalau kami gagal memesan transportasi online. Alternatif untuk makan malam di hotel tempat kami menginap pun sudah terbersit dalam pikiran. Duh, bisa gagal nih rencana dinner romantis kami. Hiks... 

Seperti restoran padang yang sabar menanti, setelah sekitar 30 menit memesan transportasi online, akhirnya ada juga driver yang mengambil pesanan kami. Thanks God… jadi nih dinner romantis :). 
Kami pun berhasil dinner romantis yang ga romantis-romantis amat karena memang kami orangnya kurang romantis :)
Kondisi harap-harap cemas menanti ambilan pesanan dari driver online ini kami alami hampir di setiap rencana perjalanan kami, baik rencana perjalanan dari hotel kami menginap ke tempat lain maupun arah sebaliknya untuk kembali ke hotel kami menginap lagi.

Terlepas dari segala kekhawatiran dalam memesan transportasi online, saya kira ke depannya mungkin akan semakin mudah untuk menggunakan moda transportasi online mobil di daerah wisata Bandung. Kemungkinan bertambah banyaknya wisatawan yang ga mau ribet macet seperti saya semoga juga akan seiring dengan bertambah banyaknya driver online. Amin..

Berikut tips dari saya selama liburan tanpa kendaraan pribadi di Bandung:

  •          Usahakan pesan tiket kereta jauh-jauh hari. Saya ulangi lagi, banyak pekerja yang mudik setiap akhir pekan. Ga mau kan rencana naik kereta batal karena kehabisan tiket? Mungkin pemesanan paling lambat 1 bulan atau 2 minggu sebelumnya sudah cukup. Ga perlu parno-parno amat seperti saya yang pesan 3 bulan sebelumnya. Ohiya, 3 bulan sebelum perjalanan adalah waktu paling jauh untuk kita bisa memesan tiket kereta. Untuk pemesanan lebih dari 3 bulan sebelumnya tidak bisa dilakukan. Kebayang kan seberapa parnonya saya, sampai saya set reminder di kalender ponsel untuk remind pemesanan tiket kereta 3 bulan sebelum rencana perjalanan.
  •          Untuk pemesanan transportasi online, ada baiknya melakukan pemesanan 30 menit sebelum jadwal keberangkatan kita. Hal ini untuk jaga-jaga kalau abang driver lama ambil orderan kita.
  •          Bawalah barang bawaan secukupnya. Karena tidak bawa mobil pribadi, maka kita tidak bisa seenaknya taruh barang di mobil dan melenggang ke tempat tujuan dengan barang seperlunya. Apa yang kamu bawa, ya itu yang kamu tenteng ke mana-mana :)

Ulasan tentang tempat saya menginap dan restoran apa yang saya kunjungi akan saya post di postingan berikutnya ya.. 

Salam,
Nita